Sunday, June 13, 2010

SISTEM DRAINASE

5.3. Sistem Drainase
Air hujan yang jatuh di suatu daerah perlu di alirkan atau di buang . caranya yaitu dengan pembuatan saluran yang dapat menampung air hujan yang mengalir di permukaan tanah tersebut. System saluran di atas selanjutnya di alirkan ke system yang lebih besar. Sistem yang paling kecil juga di hubungkan dengan saluran rumah tangga, system bagunan infrastruktur lainnya. Sehingga apabila cukup banyak limbah cair yang berada dalam tersebut perlu di olah (treatment).
Sistem drainase pada prinsipnya terbagi atas dua macam yaitu : Drainase untuk daerah perkotaan dan drainase untuk daearah pertanian.
Pada perencanaan dan pengembangan system drainase kota perlu kombinasi antara perkembangan perkotaan, daerah rural dan daerah aliran sungai (DAS). Untuk pengembangan suatu wilayah baru di perkotaan, perancangannya harus di sesuaikan dengan system drainase alami yang sudah ada maupun yang telah di buat.
Sesuai dengan prinsip sebagai jalur pembuangan maka pada waktu hujan, air yang mengalir di permukaan di usahakan secepatnya di buang agar tidak menimbulkan genangan-genangan yang dapat mengganggu aktivitas perkotaan dan bahkan dapat menimbulkan kerugian sosial ekonomi terutama yang menyangkut aspek-aspek kesehatan lingkungan permukiman kota. Namun bagi pengembangan sumber daya air, perlu di perhatikan pula daerah resapan airnya ytang bias di fungsikan, sehingga air hujan tidak terbuang percuma ke laut, karena merupakan sumber daya air yang di pakai di musim kemarau nanti.
Ukuran dan kapasitas sisitem drainase semakin kehilir semakin besar,karena semakin luas daerah aliranya. Pembagian daerah aliran sungai (DAS) harus dibuat secermat mungkin agar desain saluran stabil dapat dibuat.
5.3.1 Fungsi Drainase
Fungsi dari drainase adalah :
• Membebaskan suatu wilayah (terutama yang padat permukiman) dari genangan air,erosi dan banjir.
• Karena aliran lancar maka drainase juga berfungsi memperkecil resiko kesehatan lingkungan; bebas dari malaria (Nyamuk) dan penyakit lainnya .
• Kegunaan tanah permukiman padat akan jadi lebih baik karena terhindar dari kelembaban.
• Dengan system yang baik tata guna lahan dapat di optimalkan dan juga memperkecil kerusakan-kerusakan struktur tanah untuk jalan dan pembangunan lainnya.

Pelaksanaan pembangunan dan pemeliharaan system drainase di wilayah kota yang sudah padat sering kali mengalami berbagai kendala antara lain:

• Kurannya lahan untuk pengembangan system drainase
• Kesulitan teknis sering timbul pada pemeliharaan saluran karena bagian atas sudah di tutup oleh bangunan sehingga pada waktu pegerukan tidak bisa di normalisir seluruh sisitem yang ada.
• Sampah terutama sampah domestikbanyak menumpuk di saluran sehingga mengakibatkan pengurangan kapasitas dan penyumbatan saluran .
• Drainase masih di pandang proyek yang menyulitkan keterlibatan aktif masyarakat karena drainase di pandang tempat kumuh dan berbau.
• System drainase sering tidak berfungsi optimal akibat adannya pembangunan infrastrutur lainnya yang tidak terpadu dan tidak melihat keberadaan system drainase seperti jalan, kabel tekom, pipa PDAM
• Secara etika, drainase tidak merupakan infrastruktur yang bisa di lihat keindahannya karena fungsinya sebagai pembuangan air dari semua sumber.
5.3.2 Sistem Jaringan Drainase
System jaringan drainase di dalam wilayah kota di bagi atas 2 (dua) bagian yaitu: drainase major dan drainase minor.
Sisitem drainase mayor
Yang dimaksud dengan sisitem drainase mayor yaitu system saluran/badan air yang menampung dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (catchment area). Biasanya system ini menampung aliran yang bersekala besar dan luas seperti saluran drainase primer, kanal-kanal atau sungai-sungai. Pad umumnya system drainase mayor ini di sebut juga sebagai system saluran pembuangan utama. System ini merupakan penghubung antara drainase dan pengendalian banjir. Debit rencanannya di pakai dengan priode ulang lebih besar dari 10 tahun. Di Indonesia mengingat keter batasan untuk sungai-sungai besar di pakai priode ulang 50 tahun.
Di daerah yang berbukit atau daerah yang kemiringan tanahnya cukup, masalah pembuangan /pengaliran airnya tidak begitu sulit pemecahannya, karena perbedaan tingginya cukup besar sehingga air yang mengalir sangat cepat. Akan tetapi di daerah datar terutama di daerah pantai yang terkena pengaruh pasang surut,kadang-kadang tidak terdapat beda tinggi yang tidak cukup untuk pengaliran tetap dalam keadaan normal, pengaruh kemiringan landai dan kenaikan muka air laut dominan. Pengukuran topografi yang detail mutlak di perlukan untuk perencanaan system drainase ini.
System Drainase Mikro
Yang di maksud dengan drainase mikro yaitu system saluran dan bangunan pelengkap drainase yang menampung dan mengalirakan air dari daerah tangkapan air dari daerah tangkapan hujan di mana sebagian besar di dalam wilayah kota. Secara keseluruhan yang termasuk dalam system drainase mikro adalah : Saluran di sepanjang sisi jalan, saluran/selokan air hujan di sekitar bangunan, gorong-gorong,saluran drainase kota dan lain sebagainnya di mana debit air yang dapat di tampungnya tidak terlalu besar.
Pada umumnya darinase mikro ini di rencanakan untuk hujan dengan masa ulang 2,5 dan 10 tahun tergantung pada tata guan tanahnya yang ada. System darinase untuk lingkungan pemukiman lebih cendrung sebagai system drainase mikro.
Dari segi kontruksi drainase mikro di bagi menjadi 2 (DUA) yaitu:
• System saluran tertutup
• System saluran terbuka
• System saluran tertutup
Sisitem ini cukup bagus di gunakan di daerah perkotaan terutama untuk kota yang tinggi tingkat kepadatannya seperti kota metropolitan dan kota-kota besar lainnya. Lahan yang tersedia sudah begitu terbatas dan mahal harganya, sehingga kadang-kadang ti dak di mungkinkan lagi untuk membuat system saluran terbuka. Walaupun system saluran tertutup mengalir secara gravitasi.
Berdasarkan fungsinya system saluran terpisah yaitu untuk mengalirkan air hujan saja ataupun untuk mengalirkan air limbah penduduk saja, dan dapat juga berupa gabungan dari kedua fungsi tersebut tergantung pada kepentingannya. Saluran tertutup ini dapa berupa pipa beton bertulang, besi tuang, tanah liat, palstik (PVC) atau bahan yang tahan karat (korosif).
Untuk saluran yang besar yang tidak dapat di buat di luar (prefabricated) atau apabila kondisi setempat tidak mengijinkan maka sebagai alternative dapat di pakai box beton bertulang. Biasanya harganya lebih tinggi dan masa pelaksanaannya lebih lama karena menunggu umur beton sampai cukup kuat menahan beban. Air hujan yang masuk melalui inlet atau catch basin. Pada outlet saluran di buat juga kontruksi khusus untuk mencegah terjadinya erosi/gerusan.
Dengan system saluran tertutup ini kemungkinan terhadap penyalahgunaan saluran drainase yang biasanya terjadi seperti tempat pembuangan atau tempat pembuangan kotoran dapat dihindari serta memungkinkan pemanfaatan permukaan tanah untuk keperluan lain.
Kesulitan pelaksanaannya tidak terlepas pula dari masalah non teknis karena harus membongkar jalan umum, memindahkan instalasi-instalasi bawah tanah, tiang listrik, telepon dan lain-lain.
Manajemen pemeliharaannya juga harus baik, sebab meskipun di bandingkan dengan saluram terbuka lebih aman terhadap kerusakan,tetapi lebih sulit untuk melaksanakannya. Mengingat pembuatan saluran tertutup ini cukup besar biaya dan memerlukan tegnologi yang tinggi.
• System saluran terbuka
Dibandingkan dengan system saluran tertutup biaya pembuatan system saluran terbuka adlah lebih rendah dan tidak memerlukan tegnologi yang begitu rumit sehingga system cendrung lebih sering diguanakan sebagai alternatif pilihan yang relatif mudah dilakukan. Saluran terbuka cocok di pakai apabila masih tersedia lahan yang cukup untuk keperluan ini.
System saluran terbuka ini biasa di rencanakan hanya untuk menampung air hujan dan mengalirkannya (system terpisah). Namun kebanyakan system saluran ini berfungsi sebagai system saluran campuran (gabungan)dimana misalnya sampah dan limbah penduduk di buang ke saluran tersebut. Persoalan sampah ini masih merupaka persoalan yang rumit karena di samping budaya menganggap bahwa saluran/sungai sebagai tempat pembuangan, ini juga di sebabkan daya tampung yang ada kurang memadai.
Di daerah pinggiran kota, saluran terbuka biasannya tidak di beri lining (lapisan lindung). Perlindungan tebing cukup memakai gebalan rumput saja. Akan tetapi saluran terbuka di dalam kota haru di beri lining dengan beton, pasangan batu (masonry) ataupun dengan pasangan bata. Penampungan saluran ini di buat berbentu trapesium. Namun kadang-kadang mengingat kondisi lapangan misalnya karena keterbatasan lahan yang tersedia sudah tidak memungkinkan lagi maka penampang saluran di buat persegi. Dasarnya dapat berupa setengah lingkaran atau datar maupun kombinasi dari keduannya. Apabila diperlukan, saluran ini dapat juga di tutp dengan plat beton. Tetapi harus di buat lubang di celah pemasukan agar air air dapat mengalir masuk kedalam.
Bentuk-bentuk dan fungsi saluran terbuka dan saluran tertutup secara umum di antarannya dapat di lihat berikut ini.
Bentuk dan fungsi saluran tertutup (sewerage)

1.



2.





3.















Bentuk-bentuk saluran terbuka dan fungsinya

1. Trapesium




2. Kombinasi trapesium dengan
segi empat




3. Kombinasi trapesium dengan
setngah lingkaran




4. Segi empat




5. Kombinasi segi empat dengan
setengah lingkaran



6. Setengah lingkaran

No comments:

Post a Comment