Sunday, August 22, 2010

Deteksi Kelainan dengan Rekam Otak

Media Monitoring, Analysis and Tracking, Information System Consultant, Software-Web Develoment and Maintenance,Computer Network Supply and Installation, Purchasing Service

Cakrajiya Ciptana (CCi)

http://www.cc-indonesia.com




ARTICLE CLIPPINGS

Media : www.surabayapost.co.id

Date : Wednesday, March 24, 2010

Url : http://www.surabayapost.co.id/...

Tone : Positive



Untuk mengetahui apa efek dari kejang yang sering dialami anak, sebaiknya para orang tua melakukan rekam otak. Diharapkan dengan rekam otak yang menggunakan alat electroencephalogram atau EEG bisa diketahui ada tidaknya kelainan atau kerusakan saraf pada anak. Spesialis anak, dr Prastiya Indra Gunawan SpA(K) mengatakan kejang merupakan gangguan saraf yang lazim terjadi pada anak-anak dan terjadi dengan frekuensi 4 hingga 6 kasus per 1.000 anak. Kejang menjadi gejala gangguan sistem saraf pusat yang memerlukan pengamatan dan manajemen segera. Masih menurut Prasitya ada berbagai tanda balita mau kejang, antara lain kelojotan atau semua bagian tubuh bergerak-gerak, mata berkedip-kedip, adanya gerakan-gerakan aneh, bengong atau diam saja, kulit tiba-tiba membiru. Bisa juga anak tiba-tiba jatuh sendiri tanpa sebab, muntah-muntah tanpa sebab, dan marah-marah tanpa sebab. �Itu hanya tanda dan gejala fisik yang bisa dikenali. Namun untuk mengetahui secara pasti apakan buah hati kita berisiko kejang adalah melalui pemeriksaan EEG,� terangnya. Tujuan EEG, sambung Prasitya tidak lain untuk membantu dokter dalam menegakkan diagnosis secara akurat dan untuk menentukan lokasi kelainan otak berdasarkan letupan listrik yang berlebihan. Sehingga dapat diberikan tindakan terapi yang tepat bagi pasien. Pemeriksaan EEG tidak akan sakit dan relatif aman karena tidak menggunakan alat suntik. Untuk diketahui sejak EEG dikenalkan di RS Siloam pada Desember 2009, sedikitnya ada 60 pasien yang telah melakukan pemeriksaan. Pada triwulan pertama tahun ini tercatat 105 pasien yang telah melakukan tes EEG. Spesialis bedah syaraf RSU dr Soetomo, dr Wihasto Suryaningtyas SpBS menambahkan untuk mendeteksi kejang selain melakukan EEG, pasien bisa melakukan pemeriksaan dengan magnetic resonance imaging (MRI). Gambar MRI dapat memberikan kontras yang sangat akurat antara berbagai jaringan atau saraf otak yang normal dan tidak normal. Sehingga dapat diketahui dengan jelas, di mana letak adanya kelainan saraf pada pasien. Dengan mengetahui lokasi kelainan yang tepat akan mudah dilakukan pengobatan yang tepat pula. �Untuk pengobatan kejang dalam beberapa kasus bisa disembuhkan dengan obat. Sisanya ada beberapa kasus yang harus melalui operasi,� jelasnya.



No comments:

Post a Comment